Kajian Teologi Kontekstual tentang Perbedaan Pemasangan Kaso pada Adat Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’ di Gandangbatu

Anugrah, Arya Arnal (2025) Kajian Teologi Kontekstual tentang Perbedaan Pemasangan Kaso pada Adat Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’ di Gandangbatu. Scholar thesis, Institut Agama Kristen Negeri Toraja.

[img] Text
arya_skpp.pdf

Download (71kB)
[img] Text
arya_hd.pdf

Download (327kB)
[img] Text
arya_kp.pdf

Download (307kB)
[img] Text
arya_bab_1.pdf

Download (455kB)
[img] Text
arya_bab_2.pdf

Download (500kB)
[img] Text
arya_bab_3.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (404kB) | Request a copy
[img] Text
arya_bab_4.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (418kB) | Request a copy
[img] Text
arya_bab_5.pdf

Download (386kB)
[img] Text
arya_dp.pdf

Download (387kB)
[img] Text
arya_lp.pdf

Download (410kB)
[img] Text
arya_lp2.pdf

Download (450kB)
[img] Text
arya_cv.pdf

Download (314kB)

Abstract

Masyarakat Toraja dikenal memiliki kekayaan budaya dan kepercayaan yang sarat dengan makna religius, sosial, dan kosmologis. Setiap peristiwa penting dalam kehidupan, baik yang berkaitan dengan kelahiran, kehidupan, maupun kematian, dirayakan melalui upacara adat Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’. Kedua ritus ini tidak hanya merupakan warisan tradisi leluhur, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga relasi harmonis antara manusia, alam, leluhur, dan Tuhan. Salah satu unsur penting dalam pelaksanaan kedua upacara tersebut adalah pemasangan kaso, yaitu kayu utama penyangga lantang atau tenda upacara. Menariknya, terdapat perbedaan arah dan cara pemasangan kaso antara Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’ yang diyakini memiliki makna simbolik dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara teologi kontekstual makna perbedaan pemasangan kaso dalam upacara Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’ di Lembang Gandangbatu dengan menggunakan teori simbol dan ritual Victor Turner. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis melalui studi literatur, observasi, dan wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat setempat. Teori simbol dan ritual Victor Turner digunakan untuk menafsirkan makna simbolik pemasangan kaso sebagai bagian dari struktur ritual dan pengalaman liminal dalam kehidupan masyarakat Toraja. Selain itu, penelitian ini menggunakan pendekatan teologi kontekstual model antropologis untuk memahami relasi antara budaya lokal dan iman Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasangan kaso pada Rambu Tuka’ dilakukan dengan arah garontokna dipajiong liu (ujung bawah), yang melambangkan sukacita, harapan, dan pengangkatan kehidupan. Sementara itu, pada Rambu Solo’ pemasangan kaso dilakukan dengan arah garontokna dipajao liu (ujung atas), yang melambangkan penyerahan, penghormatan terakhir, dan perjalanan menuju kehidupan kekal. Perbedaan arah pemasangan kaso bukan sekadar aspek teknis arsitektural, tetapi merupakan simbol siklus kehidupan manusia yang mencerminkan dinamika antara kelahiran, kehidupan, dan kematian. Dalam perspektif teologi kontekstual, simbol tersebut dapat dipahami sebagai sarana inkulturasi iman Kristen yang menegaskan nilai syukur atas kehidupan, kesadaran akan keterbatasan manusia, serta pengharapan akan keselamatan dalam Allah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemasangan kaso dalam upacara Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’ mengandung makna teologis yang mendalam dan dapat menjadi ruang dialog antara budaya Toraja dan iman Kristen. Tradisi adat tidak harus dipertentangkan dengan ajaran gereja, melainkan dapat menjadi media untuk memahami karya Allah dalam kehidupan manusia secara kontekstual. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan teologi kontekstual serta membantu masyarakat dan gereja dalam memaknai budaya lokal sebagai bagian dari refleksi iman. Kata Kunci: Teologi Kontekstual, Rambu Tuka’, Rambu Solo’, Kaso, Victor Turner, Budaya Toraja. ABSTRACK The Torajan community is widely known for its rich cultural traditions and beliefs that are deeply filled with religious, social, and cosmological meanings. Every important event in life, whether related to birth, life, or death, is celebrated through traditional ceremonies known as Rambu Tuka’ and Rambu Solo’. These rituals are not merely ancestral traditions but also function as a means of maintaining harmonious relationships between humans, nature, ancestors, and God. One important element in the implementation of these ceremonies is the installation of kaso, which serves as the main wooden support for the ceremonial pavilion or tent. Interestingly, there is a significant difference in the direction and method of installing kaso between Rambu Tuka’ and Rambu Solo’, which is believed to contain symbolic and spiritual meanings. This study aims to examine, from a contextual theological perspective, the meaning of the differences in kaso installation in Rambu Tuka’ and Rambu Solo’ ceremonies in Lembang Gandangbatu by using Victor Turner’s theory of symbols and rituals. This research uses a qualitative approach with descriptive-analytical methods through literature study, observation, and interviews with traditional leaders, religious leaders, and local community members. Victor Turner’s theory of symbols and rituals is used to interpret the symbolic meaning of kaso installation as part of ritual structure and liminal experience in Torajan society. In addition, this study applies the anthropological model of contextual theology to understand the relationship between local culture and Christian faith. The findings of this study show that the installation of kaso in Rambu Tuka’ is carried out with the direction of garontokna dipajiong liu (lower end), which symbolizes joy, hope, and the elevation of life. Meanwhile, in Rambu Solo’, the installation of kaso is carried out with the direction of garontokna dipajao liu (upper end), which symbolizes surrender, final respect, and the journey toward eternal life. The difference in the direction of kaso installation is not merely a technical or architectural aspect but represents the cycle of human life, reflecting the dynamics between birth, life, and death. From the perspective of contextual theology, this symbol can be understood as a medium for the inculturation of Christian faith that emphasizes gratitude for life, awareness of human limitations, and hope for salvation in God. This study concludes that the installation of kaso in Rambu Tuka’ and Rambu Solo’ ceremonies contains profound theological meaning and can serve as a space for dialogue between Torajan culture and Christian faith. Traditional customs do not need to be opposed to church teachings but can become a medium for understanding God’s work in human life contextually. This research is expected to contribute to the development of contextual theology and assist both the community and the church in understanding local culture as part of faith reflection. Keywords: Contextual Theology, Rambu Tuka’, Rambu Solo’, Kaso, Victor Turner, Torajan Culture.

Item Type: Thesis (Scholar)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BV Practical Theology
Depositing User: Entri Data
Date Deposited: 05 Feb 2026 09:43
Last Modified: 05 Feb 2026 09:43
URI: http://digilib-iakntoraja.ac.id/id/eprint/5270

Actions (login required)

View Item View Item