Datte, Mersiani Rerung (2026) Makna Sabat dalam Keluaran 16 Berdasarkan Hermeneutik Ekologis Norman C. Habel. Masters thesis, Institut Agama Kristen Negeri Toraja.
|
Text
mersiani_skpp.pdf Download (229kB) |
|
|
Text
mersiani_hd.pdf Download (781kB) |
|
|
Text
mersiani_kp.pdf Download (287kB) |
|
|
Text
mersiani_bab_1.pdf Download (268kB) |
|
|
Text
mersiani_bab_2.pdf Download (475kB) |
|
|
Text
mersiani_bab_3.pdf Restricted to Repository staff only Download (360kB) | Request a copy |
|
|
Text
mersiani_bab_4.pdf Download (214kB) |
|
|
Text
mersiani_dp.pdf Download (235kB) |
|
|
Text
mersiani_lp.pdf Download (899kB) |
|
|
Text
mersiani_cv.pdf Download (134kB) |
Abstract
Krisis ekologis global mendorong berkembangnya kajian ekoteologi dan ekohermeneutik dalam teologi Kristen. Kajian Sabat dalam Keluaran 16 masih didominasi pembacaan antroposentris berfokus pada dimensi spiritual-personal, sementara unsur ekologis dalam narasi manna belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan menemukan makna Sabat dalam Keluaran 16 berdasarkan hermeneutik ekologis Norman C. Habel, menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, melalui tiga proses hermeneutik: kecurigaan, identifikasi, dan pemulihan. Hasilnya menunjukkan pembacaan konvensional membuat unsur Bumi manna, burung puyuh, embun, dan padang gurun kehilangan suara dan nilainya sendiri. Ketetapan Sabat pada ayat 22-30 bukan sekadar perintah ritual, melainkan ritme istirahat yang tertanam dalam tatanan ciptaan, di mana Bumi turut beristirahat pada hari ketujuh. Larangan menimbun manna dipulihkan sebagai ajaran kecukupan, sedangkan penyimpanan manna dipulihkan sebagai kesaksian relasi Allah, manusia, dan Bumi. Sabat disimpulkan sebagai ritme perhentian bagi seluruh komunitas kehidupan yang mengajarkan kecukupan, penghormatan batas pemberian Bumi, dan tanggung jawab bersama atas keberlanjutan hidup. Kata Kunci: Sabat, Keluaran 16, hermeneutik ekologis Norman C. Habel. ABSTRACT The global ecological crisis has spurred ecotheology and ecohermeneutics in Christian theology. Studies on the Sabbath in Exodus 16 remain largely anthropocentric, focusing on spiritual-personal dimensions, while ecological elements in the manna narrative remain underexplored. This study discovers the meaning of the Sabbath in Exodus 16 based on Norman C. Habel's ecological hermeneutics, using a qualitative descriptive library research method through three processes: suspicion, identification, and retrieval. Findings show conventional readings render Earth elements manna, quail, dew, wilderness voiceless and valueless. The Sabbath command in verses 22-30 is not merely ritual but a rest rhythm embedded in creation, wherein Earth itself rests on the seventh day. Hoarding manna's prohibition is retrieved as sufficiency teaching, while storing manna testifies to reciprocity among God, humanity, and Earth. Sabbath is thus a rest rhythm for the whole community of life, teaching sufficiency, respect for Earth's limits, and shared responsibility for sustaining life. Keywords: Sabbath, Exodus 16, ecological hermeneutics, Norman C. Habel.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BS The Bible |
| Depositing User: | am andarias m. |
| Date Deposited: | 11 Aug 2026 13:57 |
| Last Modified: | 12 Aug 2026 10:35 |
| URI: | http://digilib-iakntoraja.ac.id/id/eprint/5738 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

