Galugu, Settin (2026) Kepemimpinan Gereja Kontesktual: Analisis Perjumpaan Teologi dan Budaya dalam Pembentukan Model Kepemimpinan di Gereja Toraja. Masters thesis, Institut Agama Kristen Negeri Toraja.
|
Text
settin_skpp.pdf Download (82kB) |
|
|
Text
settin_hd.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
settin_kp.pdf Download (138kB) |
|
|
Text
settin_bab_1.pdf Download (215kB) |
|
|
Text
settin_bab_2.pdf Download (347kB) |
|
|
Text
settin_bab_3.pdf Restricted to Repository staff only Download (365kB) | Request a copy |
|
|
Text
settin_bab_4.pdf Restricted to Repository staff only Download (251kB) | Request a copy |
|
|
Text
settin_bab_5.pdf Download (159kB) |
|
|
Text
settin_dp.pdf Download (229kB) |
|
|
Text
settin_lp.pdf Download (169kB) |
|
|
Text
settin_lp2.pdf Download (348kB) |
|
|
Text
settin_cv.pdf Download (112kB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tegangan yang muncul antara sistem kepemimpinan formal Gereja Toraja yang bercorak presbiterial-sinodal dengan nilai-nilai kepemimpinan tradisional Toraja, seperti musyawarah adat (ma’kombongan) dan nilai sugi’, barani, manarang, yang masih kuat menuntun kehidupan masyarakat. Ketidakmampuan menjembatani kedua sistem nilai ini berpotensi melahirkan pemimpin gereja yang kurang kontekstual serta menciptakan jarak antara gereja dan jemaatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain model kepemimpinan gereja yang kontekstual di Gereja Toraja dengan memperhatikan integrasi nilai-nilai budaya lokal dan prinsip-prinsip teologis Kristen, termasuk teladan kepemimpinan Alkitabiah dan pola kepemimpinan tradisional Toraja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan Ketua Badan Pekerja Sinode (BPS), Sekretaris Umum BPS, Ketua Majelis Pertimbangan Gereja Toraja (MPGT), dan seorang praktisi budaya Toraja, dilengkapi dengan observasi dan studi kepustakaan, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model kepemimpinan gereja kontekstual di Gereja Toraja terbangun atas empat dimensi yang saling melengkapi, yaitu kepemimpinan partisipatif-komunal, kepemimpinan transformatif-kultural, kepemimpinan pastoral-kontekstual, dan kepemimpinan profetik-kritis. Keempat dimensi ini lahir dari perjumpaan yang dinamis antara pola kepemimpinan Alkitabiah, seperti kepemimpinan Musa yang dibentuk dalam pergumulan pembebasan dan kepemimpinan Yesus yang melayani di tengah tekanan sosial-politik Romawi, dengan pola kepemimpinan adat Toraja seperti to parengnge’, to minaa, dan sistem kapuangan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kepemimpinan gereja yang kontekstual bukanlah kompromi teologis, melainkan ekspresi inkarnasional gereja yang menjembatani kesetiaan pada Injil dengan keberakaran pada budaya Toraja. Kata Kunci: kepemimpinan gereja, kontekstualisasi, budaya Toraja, kepemimpinan Alkitabiah, Gereja Toraja. ABSTRACT This research is grounded in the tension between the Toraja Church’s formal presbyterial-synodal leadership system and the enduring values of traditional Toraja leadership, such as customary deliberation (ma’kombongan) and the values of sugi’, barani, manarang, which continue to shape communal life. The inability to bridge these two value systems risks producing church leaders who are culturally distant from their congregations. This study aims to design a contextual model of church leadership for the Toraja Church that integrates local cultural values with Christian theological principles, including biblical models of leadership and traditional Toraja leadership patterns. The study employs a qualitative field research approach. Data were gathered through in-depth interviews with the Chairperson of the Synod Executive Board (BPS), the Secretary General of the BPS, the Chairperson of the Toraja Church Advisory Council (MPGT), and a Toraja cultural practitioner, supplemented by observation and literature review, and analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that the contextual model of church leadership in the Toraja Church is built upon four complementary dimensions: participatory-communal leadership, transformative-cultural leadership, pastoral-contextual leadership, and prophetic-critical leadership. These four dimensions emerge from a dynamic encounter between biblical leadership patterns such as the leadership of Moses forged through the struggle for liberation and the leadership of Jesus, who served amid the socio-political pressures of Roman rule and traditional Toraja leadership patterns such as to parengnge’, to minaa, and the kapuangan system. The study concludes that contextual church leadership is not a theological compromise, but an incarnational expression of the church that bridges faithfulness to the Gospel with rootedness in Toraja culture. Keywords: church leadership, contextualization, Toraja culture, biblical leadership, Toraja Church.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BV Practical Theology |
| Depositing User: | am andarias m. |
| Date Deposited: | 10 Aug 2026 15:43 |
| Last Modified: | 11 Aug 2026 10:03 |
| URI: | http://digilib-iakntoraja.ac.id/id/eprint/5725 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

