Eksegese Pengkhotbah 12:7 tentang Ruakh ( רוּח) dan Implikasinya terhadap Pemahaman Kristen tentang Kematian Manusia

Matande, Cyane Raeny Rara’ Datu (2026) Eksegese Pengkhotbah 12:7 tentang Ruakh ( רוּח) dan Implikasinya terhadap Pemahaman Kristen tentang Kematian Manusia. Masters thesis, Institut Agama Kristen Negeri Toraja.

[img] Text
cyane_skpp.pdf

Download (225kB)
[img] Text
cyane_hd.pdf

Download (1MB)
[img] Text
cyane_kp.pdf

Download (251kB)
[img] Text
cyane_bab_1.pdf

Download (372kB)
[img] Text
cyane_bab_2.pdf

Download (236kB)
[img] Text
cyane_bab_3.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (512kB) | Request a copy
[img] Text
cyane_bab_4.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (326kB) | Request a copy
[img] Text
cyane_bab_5.pdf

Download (259kB)
[img] Text
cyane_dp.pdf

Download (127kB)
[img] Text
cyane_lp.pdf

Download (3MB)
[img] Text
cyane_cv.pdf

Download (218kB)

Abstract

Cyane Raeny Rara’ Datu Matande, 2026. Eksegese Pengkhotbah 12:7 Tentang Ruakh ( רוּח) Dan Implikasinya Terhadap Pemahaman Kristen Tentang Kematian Manusia. Di Bawah Bimbingan Dr. Amos Susanto, M.Th. & Dr. Joni Tapingku, M.Th Penelitian ini mengkaji hasil penafsiran atas ruakh (רוּחַ) dalam Pengkhotbah 12:7 serta pengaruhnya terhadap pemahaman kekristenan tentang kematian manusia. Latar belakang penelitian ini adalah ketegangan penafsiran atas kata ruakh, yang dalam Kitab Pengkhotbah memiliki rentang makna luas angin, usaha sia-sia, maupun daya hidup sehingga memunculkan perdebatan antara pembacaan dualistis (jiwa sebagai entitas kekal yang berdiri sendiri) dan pembacaan holistik (roh sebagai karunia hidup yang bergantung penuh kepada Allah). Penelitian ini menggunakan metode eksegesis biblika gramatikal-historis yang bersifat kualitatif-deskriptif dengan desain penelitian kepustakaan, menganalisis teks Ibrani Pengkhotbah 12:7 berdasarkan Biblia Hebraica Stuttgartensia, dibandingkan dengan tujuh versi terjemahan (KJV, NIV, ITL, ITB, ITB2, BIS, dan Toraja), serta didialogkan dengan konsep roh dalam kepercayaan bangsa-bangsa sekitar Israel (Mesir, Mesopotamia, Babel) dan budaya Toraja. Hasil penafsiran menunjukkan bahwa ruakh dalam Pengkhotbah 12:7 paling tepat dipahami sebagai daya hidup relasional pemberian Allah, bukan substansi ilahi yang berdiri sendiri secara filosofis-Yunani, dan juga bukan sekadar fenomena biologis. Analisis paralelisme sintaksis menunjukkan bahwa kematian dipahami Qohelet sebagai peristiwa “kembali” (shuv) bagi debu dan roh menuju asalnya masing-masing tanah dan Allah sebuah gerak relasional yang menegaskan ketergantungan total manusia kepada Penciptanya. Pengaruh hasil penafsiran ini bagi pemahaman kekristenan mencakup empat dimensi: kematian sebagai peristiwa teologis, bukan pemusnahan total; roh sebagai karunia yang bergantung kepada Allah dalam kerangka antropologi holistik; keterhubungannya dengan pengharapan eskatologis akan kebangkitan tubuh; serta relevansi pastoralnya sebagai dasar penghiburan bagi jemaat yang menghadapi kematian dan dukacita. Kata Kunci: Pengkhotbah 12:7, ruakh, eksegesis, antropologi biblika, kematian. ABSTRACT Cyane Raeny Rara’ Datu Matande, 2026. An Exegesis Of Ecclesiastes 12:7 On Ruakh ( רוּח) And Its Implication For The Cristian Understanding Of Human Death. Under the Guidance of Dr. Amos Susanto, M.Th. & Dr. Joni Tapingku, M.Th This study examines the results of interpreting ruakh (רוּחַ) in Ecclesiastes 12:7 through grammatical-historical exegesis and explores its influence on the Christian understanding of human death. Using a qualitative-descriptive library research method, the study analyzes the Hebrew text based on the Biblia Hebraica Stuttgartensia, compares seven Bible translations, and engages ancient Near Eastern and Torajan concepts of spirit for comparative context. The findings indicate that ruakh in this verse is best understood as a relational life-force granted by God neither an autonomous immortal soul in the Hellenistic sense nor a merely biological breath. Death is portrayed through the syntactic parallelism of shuv (“return”) as dust returns to earth and spirit returns to God, affirming humanity's total dependence on its Creator. The study concludes that this interpretation influences the Christian understanding of death in four ways: death as a theological rather than annihilating event; spirit as a divine gift within a holistic anthropology; connection to the eschatological hope of bodily resurrection; and pastoral relevance in comforting believers facing death and grief. Keywords: Ecclesiastes 12:7, ruakh, exegesis, biblical anthropology, death.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BS The Bible
Depositing User: am andarias m.
Date Deposited: 11 Aug 2026 09:02
Last Modified: 11 Aug 2026 13:22
URI: http://digilib-iakntoraja.ac.id/id/eprint/5731

Actions (login required)

View Item View Item