Novian, Ayub (2026) Menggagas Teologi Ratapan dalam Praktek Penanian Tojolo: Analisis Kontemplatif di Gereja Toraja Jemaat Sion Batubai. Masters thesis, Institut Agama Kristen Negeri Toraja.
|
Text
ayub_kp.pdf Download (342kB) |
|
|
Text
ayub_bab_1.pdf Download (339kB) |
|
|
Text
ayub_bab_2.pdf Download (268kB) |
|
|
Text
ayub_bab_3.pdf Restricted to Repository staff only Download (322kB) | Request a copy |
|
|
Text
ayub_bab_4.pdf Restricted to Repository staff only Download (454kB) | Request a copy |
|
|
Text
ayub_bab_5.pdf Download (200kB) |
|
|
Text
ayub_dp.pdf Download (255kB) |
|
|
Text
ayub_lp.pdf Download (248kB) |
|
|
Text
ayub_lp2.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
ayub_cv.pdf Download (144kB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh Budaya Penanian Tojolo yang sering dipandang hanya sebagai tradisi adat dalam upacara Rambu Solo', sehingga makna teologis yang terkandung di dalamnya belum banyak dikaji secara mendalam. Padahal, praktik tersebut menyimpan nilai-nilai iman yang dapat menjadi sumber refleksi teologis kontekstual. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai teologis yang terkandung dalam praktik Penanian Tojolo serta menggagas Teologi Ratapan melalui pendekatan analisis kontemplatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam terhadap pendeta, majelis gereja, pelaku adat, dan anggota jemaat, serta studi dokumentasi. Data dianalisis menggunakan analisis kontemplatif yang memadukan proses deskripsi, refleksi, interpretasi teologis, dan konstruksi makna berdasarkan perspektif Teologi Kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penanian Tojolo tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi kesedihan atas kematian, tetapi juga menjadi media pengakuan iman, ungkapan kasih, pengharapan akan penyertaan Allah, serta sarana membangun solidaritas dan penguatan komunitas. Melalui analisis kontemplatif ditemukan bahwa praktik ini mengandung dimensi ratapan yang bersifat relasional, spiritual, dan komunal, sehingga dapat dipahami sebagai bentuk refleksi iman yang mempertemukan pengalaman penderitaan dengan pengharapan kepada Allah. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menggagas Teologi Ratapan sebagai refleksi teologis yang lahir dari pengalaman konkret umat dalam menghadapi dukacita, yang menempatkan ratapan bukan sebagai tanda kelemahan iman, melainkan sebagai bentuk kejujuran spiritual yang mengarahkan umat kepada pengharapan, pemulihan, dan perjumpaan dengan Allah. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan Teologi Kontekstual di Indonesia, khususnya dalam memahami praktik budaya sebagai sumber berteologi yang relevan bagi kehidupan gereja dan masyarakat. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan refleksi bagi Gereja Toraja dalam melestarikan Penanian Tojolo sebagai warisan budaya yang memiliki makna teologis serta memperkaya pelayanan pastoral kepada jemaat yang mengalami dukacita. Kata Kunci: Teologi Ratapan, Penanian Tojolo, Analisis Kontemplatif. ABSTRACT This study is motivated by the fact that the cultural practice of Penanian Tojolo is often regarded merely as a traditional custom performed during the Rambu Solo' funeral ceremony, resulting in the theological meaning embedded within it receiving little scholarly attention. In fact, this practice embodies values of faith that can serve as a source of contextual theological reflection. Therefore, this study aims to analyze the theological values contained in the practice of Penanian Tojolo and to construct a Theology of Lament through a contemplative analytical approach. This study employed a qualitative approach using a descriptive method. Data were collected through observation, in-depth interviews with pastors, church elders, traditional leaders, and church members, as well as documentation studies. The data were analyzed using contemplative analysis, which integrates the processes of description, reflection, theological interpretation, and meaning construction based on the perspective of Contextual Theology. The findings reveal that Penanian Tojolo functions not only as an expression of grief over death but also as a medium for the confession of faith, an expression of love, hope in God's presence, and a means of fostering solidarity and strengthening the community. Through contemplative analysis, this study found that the practice embodies relational, spiritual, and communal dimensions of lament, enabling it to be understood as a form of faith reflection that brings together the experience of suffering and hope in God. Based on these findings, this study constructs a Theology of Lament as a theological reflection that emerges from the concrete experiences of believers in facing grief. It understands lament not as a sign of weak faith but as an expression of spiritual honesty that leads believers toward hope, restoration, and a deeper encounter with God. This study contributes to the development of Contextual Theology in Indonesia, particularly by demonstrating that cultural practices can serve as meaningful sources of theological reflection that are relevant to the life of the Church and society. Furthermore, the findings are expected to encourage the Toraja Church to preserve Penanian Tojolo as a cultural heritage rich in theological significance while enriching its pastoral ministry for congregations experiencing grief. Keywords: Theology of Lament, Penanian Tojolo, Contemplative Analysis.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BV Practical Theology |
| Depositing User: | am andarias m. |
| Date Deposited: | 31 Jul 2026 15:08 |
| Last Modified: | 31 Jul 2026 15:08 |
| URI: | http://digilib-iakntoraja.ac.id/id/eprint/5622 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

